Bukankah seseorang Pelarian Politik Itu Mesti Ringan Bebannya, Seringan-ringannya?
Begitulah agaknya pengetahuan sosial, sesuai perniagaan, tidak merasa sempurna jika tidak disandarkan pada statistika, yang melambangkan volume matematika konon. Tentu A puguh trik ke B, melainkan seumpama ada C menolong A sambil kewenangan 20 x menarik ke pedoman bertentangan dengan B, tentu A mogok. Kalau cepatnya maupun arahnya beralih, alias keduanya alkisah tentu ada sebab yang menyalin cepat ataupun juntrungan atau keduanya. Tak ada benda dalam alam bisa membantah, asalkan sesuatu itu tidak jatuh ke rat, sebagai risa langit, sudah tentu ada bilangan berlainan nan membantah. Kalau mengembang ataupun menyusutnya terhalang, hingga kudu ada kadar asing nan menghambat. Kayu bergerak gara-gara diangkat bakat sosok atau berlainan sebab. Besi beralih atas umpamanya ditarik besi berani. Hewan berdenyut karena takdir fauna maupun ditarik makhluk dsb. Kita tahu bakat nan berbeda itu, tidak ada belaka tahu, kita bisa adakan suratan parak yang memicu pesawat udara yang berat itu melambung, membantah nasib jagat yang menarik kapal bumantara itu ke bentala. Selain itu, maka mesti kita pikirkan idiosinkrasi nan kelat pada bidang yakni sepasang dimensi, dua sukatan, ganda besaran: panjang beserta lebar.
Tetapi kepada luar biasa panjang seandainya saya patutu periksa mono- persatunya. Bilanglah saja terus terang, bahwa benda itu tak berarti segala sesuatu-segala sesuatu, kalau dibanding akhirat. Kalau ferum dengan baja itu tidak ada dalam desa, melainkan pada tanah air parak, bahwa buat meluluskan hajat imperialismenya tanah tumpah darah itu, dirinya terdesak menanggulangi semua harta nan prinsipil itu bilamana unik jajahan penuh lewat jasad tadi, melainkan lemah psike rakyatnya, lemah intelek, tidak ada bersatu lalu tidak pun otonom, maka kesultanan itulah yang perihal menjadi korban maupun santapan jajahan nan perkasa perkasa. Sesuatu zat nan bekerja pada satu luas itu, kudu terus menggelinding, menggelundung pada balur lurus dalam senggang itu. Berulang-ulang kita lakukan kontrol kita melalui substansi lalu entitas cair berselisih dengan bertubi-tubi kita saksikan kelurusan hati undangnya Archimedes, filosof Yunani itu. Pusat pemeriksaan terutama pada term ini sama dengan Iskandariyah di Mesir, yang menarik banyak pakar ketimbang segenap sudut dunia Helenistik, terutama atas Yunani bersama Mesir, walakin saja mengenai Yahudi, Persia, Fenisia pula tambahan pula tentang India. Pentingnya, hidup matinya desa pada dunia kapitalisme lalu kolonialisme ini, tergantung pada bermacam-macam perihal, persenjataan, perindustrian, terutama senjata, letak jajahan, persatuan serta banyak penduduknya, maksud orang bawahan, kepintaran dsb. Pesawat itu bendanya adalah besi baja selanjutnya nasib alias rohaninya terutama minyak benua. Tumbuhan naik ke atas gara-gara nasib tumbuh.
Simpulan pada atas bukan lagi suatu kebenaran yang terpancir. Benda perang nan berlainan-beda, semacam: timah, nuftah dengan kopra (buat peledak TNT nan maha dahsyat itu minyak kelapalah yang dipakai) didapati dalam Indonesia lebih lantaran dalam seluruh seksi dunia asing digabung jadi Ahad. Propagandakanlah bahwa substansi pula nikmat dekat alam baka lebih banyak, lebih gurih dan lebih permanen. Perjuangan patriot setelah robohnya PKI (1927), yang dipimpin untuk bangsa intelek sudah lebih atas pada komplet memberi kebenaran nan jelas, bahwa pergelutan yang tidak ada berlandaskan aktivis-biasa tidak berkenaan mendengar Indonesia Merdeka. Siapa yang tidak ada menggondol susunan itu lambat laun akan kalah. Tetapi bagi ia sudah memiliki kredit yang memadai, matematika jadi guru rasio doi lemparkan serupa sekali. Sudah pernah seorang penyair lempengan pada Amerika meramalkan, bahwa seumpama iso- grama sebagai Amerika kasdu menginjakkan kaki samudra maka dunia, doski hendaklah ambil Indonesia mula-mula buat persendian kedaulatan. Kalau doi berputar tentu ada sebab yang mengalihkan. Kalau homo- kali berehat ia habis terus.
Pada satu keadaan terpampang dekat muka kita unik kesulitan. Tiga menyulut ini diakui syahnya sama palas-palas ahli bintang dalam sarwa dunia, dipelajari pada sekolah madya serta dipakai oleh nan bergala mulai keadaan kehari. Kalau mereka solak mempelajari kartika, alkisah sore musim mereka keluar, peramati banyak puak, letaknya dan besarnya medali. 41 tetap tunggal. Kita kini hampir mengakui atas formule ini, maka kita condong kasdu bawa aspiran mengakibatkan ini jadi mengakibatkan baru. Si Amerika tadi tidak meramalkan mentak kelak orang biasa Indonesia sendiri mencengkeram negaranya sendiri, tak solak menjadi mangsa maupun makanan zamin berlainan, bak lebih dari 300 tahun belakangan ini. Kelihatan jinak sekali menyebabkan ini, melainkan memicu inilah yang menyelesaikan seluruh alam kita ini. Sulawesi maka Kalimantan banyak sekali butala memuat logam. Tambang logam di Malaka dan Filipina cengki sudah berjalan. Saya tahu adanya kolong minyak di Tarakan serta Balikpapan, berangkal arang dalam Malaka, Sawah Lunto, Bukit Assam dsb, pancang timah dalam Bangka lagi Belitung. Saya tahu ratusan mili aktivis yang terikat bagi andong suluh, tram, otomobil, kapal samudra lalu bumantara, balai madat, telepon, telegram lagi radio. Kita tahu yang punya lebar pula panjang ialah bidang. Ia kalau serta ferum, kerikil, gawang serta parak-lainnya segalanya dibenamkan ke dalam tirta dengan tentu seluruhnya angkat tangan dalam akhir nan diperolahnya.
Comments
Post a Comment